Balipustakanews.com, Jembrana – Panen raya padi di Kabupaten Jembrana, Bali, membuat petani di daerah tersebut khawatir karena harga gabah yang terus menurun. Selain itu, mereka juga kesulitan mencari tenaga untuk memanen padi.
I Wayan Sadra (68), seorang petani dari Subak Tibubeleng, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, mengungkapkan bahwa dia terpaksa memanen padi sendiri karena sulitnya menemukan tenaga pemanen. “Harga gabah sekarang di bawah Rp 6.500 per kilogram, jadi terpaksa saya potong sendiri,” keluh Sadra, Sabtu (19/4).
Sadra berencana menjual hasil panennya setelah diolah menjadi beras, sebagai solusi atas rendahnya harga gabah. Banyaknya hasil panen juga membuat para tenaga pemanen kewalahan, sehingga beberapa padi milik petani terancam rusak karena terlambat dipanen.
“Seperti padi milik tetangga saya yang sudah rusak karena belum dipanen,” tambah Sadra.
Hal serupa dialami oleh petani lainnya, Nengah Widi, yang mengaku pasrah dengan rendahnya harga gabah. “Kami tidak tahu bagaimana cara menjualnya ke Bulog,” ungkap Widi.
I Putu Sentana, Ketua Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Jembrana, mengonfirmasi bahwa petani memang menghadapi kesulitan dalam menjual padi mereka. “Harga standar gabah seharusnya Rp 6.500, namun saat ini kami belum mengetahui kondisi di lapangan, yang jelas tenaga pemanen sangat sulit didapat,” kata Sentana. (DTK/PR)






Discussion about this post