BALIPUSTAKANEWS, KARANGASEM – Gubernur Bali, Wayan Koster mengajak para pedagang dan warga yang akan menempati kios di seputaran Kawasan Suci Besakih untuk senantiasa menjaga kerukunan dan kekompakan mengingat pembangunan kawasan tersebut hampir selesai. “Saya minta semuanya guyub dan kompak semua, agar nanti terlihat rapi dan keren kawasan ini. Agar orang bisa menilai ‘begini sekarang Besakih’ setelah ditata. Lan megae bareng-bareng,” ajak Gubernur Koster saat acara Sosialisasi Rencana Pengelolaan dan Pemanfaatan Aset Pemerintah Provinsi Bali di Kawasan Suci Pura Agung Besakih pada Jumat, 02 Desember 2022 di Ruang Audio Visual Wiyata Mandala, Gedung Parkir Kawasan Suci Besakih, Rendang, Karangasem.
Gubernur Koster menyampaikan bahwa penataan kawasan Besakih merupakan kerja keras pihaknya untuk tetap menjalankan proyek ini di tengah kondisi pandemi yang melanda. “Jika tidak ada restu Ida Bhatara, serta doa masyarakat saya kira tidak berjalan,” jelasnya. “Semuanya sudah beres dan tinggal merapikan saja nanti pada Februari 2023 mendatang dan sudah bisa selesai sebelum upacara Ida Bhatara Turun Kabeh, April 2023, semuanya sudah bersih indah dan rapi,” imbuhnya lagi.
Gubernur Koster juga menyampaikan bahwa untuk segala operasional dan pengelolaan kawasan suci Besakih yang baru, akan dibentuk suatu badan khusus dan jika terdapat selisih dari hasil pengelolaan tersebut, maka akan dikembalikan ke Desa Adat dan pengempon Pura setempat. “Besakih ini tidak akan dijadikan sumber PAD, tapi biarkan sepenuhnya untuk desa adat dan pengempon Pura untuk keperluan upacara, upakara piodalan dan keperluan lainnya. Sepenuhnya kami dedikasikan untuk Ida bhatara di Besakih dan warga Besakih yang menjaga Besakih ini hingga sekarang,” jelasnya.
Disamping itu, Gubernur Koster menjelaskan terkait badan pengelola yang dimaksudkan nantinya juga akan bertanggung jawab terhadap kebersihan dan pemeliharaan sarana maupun prasarana, kepegawaian, keuangan, serta penyediaan transportasi di Kawasan Suci Besakih. Ia juga menyampaikan bahwa yang menjadi pegawai nantinya adalah masyarakat setempat (orang Besakih dan sekitarnya), tidak boleh dari luar. Pernyataan tersebut disambut dengan apresiasi positif dari ratusan pedagang dan warga yang hadir.
Kios dan pedagang juga diarahkan Gubernur untuk sepenuhnya menjual produk-produk lokal bali bahkan produk asli Karangasem. “Saya larang jual produk luar Bali. Apalagi pakaian bekas, tidak boleh. Endek ,songket ,kain bali boleh, garam boleh dan lebih baik lagi produk Karangasem. Saya akan siapkan branding Besakih-nya, misalnya kerajinan topi, baju khas Besakih. Jadi, eksklusif dia dan tidak boleh dijual di luar Besakih. Harus kesini belinya. Kita harus bisa bikin menarik dan bagus. Merchandise, produk kreatif inovatif,” tegasnya. “Pedagang juga saya minta tertib dan rapi. Baju rapi. Baju adat atau endek, dengan standar pakaian seperti di hotel misalnya,” tambah alumnus ITB Bandung ini.
Hal menarik lainnya yang dijabarkan Gubernur Koster, yaitu pemanfaatan kendaraan listrik sebagai sarana transportasi dari dan ke areal parkir untuk menuju pura. “Akan disiapkan mobil listrik kapasitas 14 orang. Agar ramah lingkungan. wisatawan juga tidak boleh sembarangan masuk ke areal Pura, ke pelinggih-pelinggih, akan disiapkan area khususnya,” kata Gubernur. “Harus dijaga Ini kawasan suci dan sakral. Harus betul-betul dijaga kesuciannya. Jangan dirusak hanya karena rupiah tidak seberapa. Guide juga akan diatur. Jangan sampai ada yang nakal,” imbuhnya lagi.
Dalam kesempatan tersebut hadir 470 orang warga yang akan menempati kios di Kawasan Besakih dan juga merupakan pemilik asli kios sebelum dilaksanakan penataan. Selain itu, hadir pula Bupati Karangasem, I Gede Dana; Kadis PUPR Provinsi Bali, Nusakti Yasa Wedha; Kasatpol PP Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi; Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karangasem, I Ketut Sedana Merta; dan Sekda Kabupaten Klungkung, I Gede Putu Winastra. (TA/HpB)






Discussion about this post